News

6/recent/ticker-posts

SEJARAH KOTA MANOKWARI

 Sejak ratusan tahun yang lalu kampung tua Manokwari telah dikunjungi oleh para penjelajah dari berbagai belahan dunia. Mereka datang untuk berdagang, mencari rempah-rempah, menyebarkan agama, dan melakukan penelitian tentang flora dan fauna serta budaya masyarakat yang ada di Tanah Papua.

Jauh sebelum penjelajah Eropa tiba di Papua untuk mencari rempah-rempah dan memberitakan Kabar Baik, bangsa Cina telah melakukan barter dengan masyarakat Papua di daerah pesisir dan pulau-pulau. Mereka mencari kulit kayu untuk keperluan obat-obatan, dan hasil laut yang ditukar dengan piring, manik-manik, dan guci. Sebagian besar benda porselin ini masih dijaga dengan baik oleh masyarakat sebagai hiasan dan mas kawin.

Kapten Thomas Forrest melakukan perjalanan ke Manokwari Tahun 1775. Dalam bukunya "A Voyage to New Guinea and the Moluccas", Ia menjelaskan sebagai berikut:

- "Tanna Papua (tanpa huruf "h") ditemukan pertama kali oleh penjelajah Portugis Antonio Ambreau dan Francis Serano pada Tahun 1511.

- New Guinea telah dilihat oleh Alvaro de Saavedra Tahun 1527.

- Antonio Urdanetta melihat New Guinea pada Tahun 1528.

Selanjutnya pada 5 Februari 1855, 3 orang penginjil dari Eropa yakni Carl Willem Ottow, istrinya dan Johann Gottlob Geissler mendarat di Pulau Mansinam. Ilmuwan dari Inggris Alfred Russel Wallace berkunjung ke Teluk Dorey Manokwari untuk melakukan penelitian terhadap flora dan fauna di daerah ini. Pada 11 April 1858, Wallace mendarat di Pulau Mansinam. Ia disambut oleh Tuan Ottow yang kemudian memperkenalkannya pada istrinya dan Geissler. Wallace menulis kisah perjalanannya di Teluk Dorey ini dalam bukunya yang berjudul The Malay Archipelago. Buku tersebut hingga sekarang masih dijual serta dijadikan sebagai acuan oleh banyak pelancong yang datang ke Indonesia (termasuk Manokwari).

Pada tanggal 02 Agustus 1872, Ilmuwan Italia L. M. D'Albertis dan Dr. Beccari mendarat di Pulau Mansinam. Mereka diterima oleh Tuan Van Hasselt dan istrinya yang sudah tinggal 9 tahun di Pulau tersebut. Mereka kemudian mengunjungi daerah Andai, tempat Woelders sedang berkarya. Kemudia L.M. D'Albertis bahkan melakukan ekspedisi ke darah Hatam di Pegunungan Arfak. Ia menulis buku New Guinea: What I did what I Saw. Ini merupakan salah satu referensi paling awal mengenai pegunungan arfak.

Pemerintah Belanda membuka pos pemerintahannya yang pertama di Tanah Papua pada 08 November 1898 dengan melantik Tuan L.A. Van Ossterzee sebagai Controleer Afdeling Noord New Guinea (Pengawas Wilayah New Guinea Bagian Utara). Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Manokwari berdasarkan Peraturan Daerah No. 16 Tahun 1995.

Perang Pasifik pecah pada 07 Desember 1941 dengan diserangnya pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Perl Harbor oleh Jepang. Pada April 1942, pasukan Jepang dan 2nd Army mendarat dan bermarkas di Manokwari di bawah pimpinan Letnan Jenderal Teshima Fusataro dengan kekuatan 50.000 orang.

Pasukan tersebut bertanggung jawab atas garis pertahanan  di Pantai Utara Papua dari Hollandia (sekarang Jayapura) hingga ke Sorong dan Halmahera. Khusus Manokwari, pasukan Jepang diperkuat oleh Divisi ke-35 pimpinan Letjen Ikeda Shunkichi berkekuatan 15.000 orang.

Pasukan Jepang membangun banyak sekali kubu pertahanan dan lubang perlindungan di hutan untuk melindungi diri dari pengeboman udara tentara sekutu. Mereka juga menggunakan gua-gua.

Ada 150 tentara Belanda di bawah pimpinan Kapten J.B.H Willeemz Geerom yang menjaga Manokwari. Sebagian dari mereka beserta keluarga menyerah dan menjadi tawanan. Tapi beberapa sertadu infantry KNIL, 62 serdadu Belanda dan 17 orang Papua masuk hutan dan melancarkan perang gerilya melawan Jepang.

Pada tanggal 01 April 1943, markas mereka diserang Jepang dan komandan Willemsz Geerom ditangkap lalu dieksekusi. Sersan Mauritz Chirstian Kokkelink mengambil alih kepemimpinan dan melanjutkan perang gerilya. 18 April 1944, pasukan gerilya yang tinggal 35 orang tersebut menyerang basis Jepang di Manokwari dan membunuh siapa saja yang mereka temui. Serangan-serangan juga datang dari Amerika Serikat pada Mei 1944 dengan pengeboman secara intensif terhadap Manokwari dan juga menenggelamkan kapal-kapal milik Jepang.

Hanya beberapa rumah saja yang tetap berdiri setelah Perang Dunia II. Banyak sekali pasukan Jepang gugur dalam pertempuran, atau mati karena kelaparan dan sakit terutama malaria.

Kelompok perlawanan melakukan kontak dengan tentara sekutu Amerika di Bulan Oktober 1944. Setelah Perang Dunia II usai, Belanda kembali ke Papua. Untuk mengenang tentara Jepang yang gugur selama Perang Dunia II, Pemerintah Jepang membangun tugu peringatan pada Tahun 1956. Tugu itu sekarang berlokasi di Hutan Lindung Taman Wisata Alam Gunung Meja, Amban, Distrik Manokwari Timur.

Gapura/Tugu Masuk ke TWA Gunung Meja

Salah Satu Goa yang terdapat di TWA Gunung Meja



Pengunjung Mengambil Lokasi Syuting di TWA Gunung Meja

Pada Tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Lewat sejumlah peperangan dan perundingan, akhirnya pengakuan kedaulatan (namun Belanda menggunakan istilah penyerahan kedaulatan) dilakukan pada tanggal 27 Desember 1949. Pada waktu itu Irian Barat (Papua sekarang) tetap berada di tangan Belanda. Presiden Soekarno berkali-kali menuntut agar Belanda menyerahkan Papua kepada Indonesia namun tidak mendapat jawaban yang positif. Pada tanggal 19 Desember 1961, Soekarno mengumandangkan Trikora yang intinya melakukan konfrontasi melawan Belanda untuk merebut Irian Barat.

Tanggal 15 Januari 1962, KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau melakukan infiltrasi ke Irian Barat lewat Laut Aru. Lalu terjadilah pertempura laut antara Belanda dan Indonesia. Komodor Yos Sudarso bersama awak kapal lainnya gugur. Indonesia juga melakukan infiltrasi dengan menerjunkan pasukan ke daratan Irian Barat. Peristiwa ini memicu perdebatan di PBB mengenai masalah Irian Barat. Tanggal 15 Agustus 1962, Indonesia dan Belanda menandatangani New York Agreement. Berdasarkan perjanjian itu, Pemerintah Belanda akan menyerahkan administrasi Irian Barat ke UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority).


KRI MACAN TUTUL

Setelah gencatan senjata antara Belanda dan Indonesia, keamanan akan menjadi tanggung jawab UNSF (United Nations Security Force). Tanggal 01 Oktober 1962, otoritas atas Netherlands New Guinea (nama untuk Irian Barat) diserahkan oleh Belanda kepada UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority).

Selanjutnya pada tanggal 01 Meri 1963, UNTEA menyerahkan kendali pemerintahan atas Irian Barat sepenuhnya ke tangan Indonesia.
Sesuai dengan New York Agreement, Sekretaris Jenderal PBB pada tanggal 01 April 1968 menunjuk Fernando Ortiz-Sanz sebagai perwakilan yang akan menasihati, membantu dan berpartisipasi dalam pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat ("Act of Free Choice") yang akan dilaksanakan di Indonesia.

Dalam laporan yang dikirimkan ke Sekjen PBB, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa antara 14 Juli dan 02 Agustus, anggota-anggota dari dewan perwakilan Irian Barat sebanyak 1.062 orang telah diminta untuk memilih apakah tetap atau berpisah dari Indonesia. Hasilnya kesemua dewan perwakilan itu memilih tetap berada di wilayah Kesatuan NKRI.

Sekjen PBB kemudian membawa laporan itu ke Sidang Umum PBB yang kemudian mengakuinya lewat Resolusi 2504 (XXIV) pada tanggal 19 November 1969.

Manokwari kemudian berstatus sebagai Ibukota kabupaten Manokwari, berdasarkan UU No. 45 tahun 1999, Pemerintah memekarkan Provinsi baru dari Papua menjadi Irian Jaya Barat. Lewat Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2007 nama Provinsi ini diubah menjadi Provinsi Papua Barat dengan Ibu Kota Manokwari.

Posting Komentar

0 Komentar