Pengunjung Menggunakan Taksi Laut untuk Menyeberang ke
Pulau Mansinam
Perjalanan menuju Pulau Mansinam selalu menyenangkan karena menyeberangi lautan biru dengan pemandangan alam yang sangat indah. Cukup dengan membayar taksi laut (perahu) dengan tarif yang sangat terjangkau sekitar 10-15 menit dari dermaga Ketapang, atau bisa menyewa perahu speed jet dari hotel mansinam maka anda akan dengan mudah menjangkau Pulau Mansinam.
Setelah perjalanan melewati Pulau Lemon, maka Anda akan sampai di Pulau Mansinam dan disambut dengan Tugu Pendaratan Injil di Pulau Mansinam. Injil pertama kali dibawa masuk oleh dua orang Missionaris pada tanggal 5 Februari tahun 1855 yaitu Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler yang berkewarganegaraan Jerman. Bahkan untuk mengenang perjalanan mereka membawa Injil masuk Tanah Papua, maka didirikanlah 2 patung di depan tugu tersebut.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka Pulau Mansinam bisa dikategorikan dalam kunjungan wisata rohani, selain mempunyai beberapa spot diving dan pemandangan alam yang tak kalah menarik.
Di Tugu tersebut biasanya para pengunjung yang baru pertama kali berkunjung akan langsung melakukan sesi foto dan membaca beberapa informasi yang ada di tempat tersebut.
Tugu Pendaratan Injil
Dari tempat ini Anda bisa mulai berjalan kaki dengan santai untuk menikmati pemandangan dan mengunjungi situs selanjutnya. Apabila tiba di siang hari yang panas bisa juga menggunakan ojek yang tersedia di pinggir pantai. Pastikan Anda bersepakat harga dahulu sebelum melakukan tour keliling Pulau.
Suasana Kedatangan Penumpang di Pulau Mansinam
Di Pulau Mansinam beberapa kali diadakan lomba lari keliling Pulau dengan jarak sekitar 10 km. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan disini termasuk memancing, snorkeling maupun mencari spot diving (karang dan kapal perang yang tenggelam pada masa perang dunia kedua) yang sangat diminati oleh para turis asing.
Kita sekarang beranjak menuju ke atas berjalan sekitar 5 menit yang pertama didapati adalah museum Mansinam.
Museum Mansinam atau dikenal juga dengan Museum Pekabaran Injil adalah museum tematik pertama di Papua Barat yang terletak di Pulau Mansinam
Museum ini didirikan pada tahun 2014 oleh pemerintah Kabupaten Manokwari dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Museum Mansinam didirikan untuk mengenang sejarah masuknya agama Kristen di Tanah Papua
Museum di Pulau Mansinam
Museum Mansinam memiliki kontruksi piramida dengan luas sekitar 1.000 meter persegi dan terdiri dari dua lantai. Lantai dasar museum berisi informasi secara umum tentang sejarah masuknya agama Kristen di Tanah Papua, mulai dari masa pendahuluan sebelum agama Kristen masuk, kemudian masa perubahan ketika Ottow dan Geissler datang, dan masa pembaruan setelah dilakukan pekabaran injil menyebar. Lantai dua museum berisi koleksi benda-benda bersejarah, seperti alat-alat peribadatan, foto-foto, dan dokumen-dokumen penting. Sedangkan di lantai atas akan ditampilkan masa sebelum kemerdekaan, masa sesudah kemerdekaan, dan tentang peringatan 5 Februari.
Kemudian tak jauh dari museum tersebut anda cukup berjalan kaki sedikit untuk bisa menjumpai peninggalan sejarah lain yang tak kalah pentingnya. Yang pertama ada makam keluarga Van Ballen yang merupakan makam keluarga para missionaris.
Makam Keluarga Van Ballen
Tak jauh dari lokasi tersebut kita bisa menjumpai peninggalan Gereja Tua, yaitu Pondasi Gereja Pertama yang merupakan peninggalan para Missionaris dibangun pada tahun 1855, struktur gereja tua Gereja Bethel, Gereja Harapan, Gereja Pniel dan Gereja Lahari- Roi yang dibangun pada Tahun 1941.
Situs Gereja Tua Lahai-Roi
Di sebelah Gereja Lahai-Roi ada Prasasti Doa Pemulihan oleh 9 Kepala Keret (Marga) antara suku Arfak dengan suku Doreri sebagai sebuah simbol kesepakatan untuk melakukan doa pemulihan bersama pada masa pemerintahan Bupati Dominggus Mandacan.
Doa Pemulihan Suku Doreri
Dibagian belakang tak jauh dari Prasasti tersebut ada Bak Air Panas peninggalan perang dunia kedua oleh para Tentara Jepang yang kini diabadikan menjadi salah satu tempat bersejarah di Pulau Mansinam.
Bak Air Panas
Tak jauh dari lokasi tersebut ada Sumur Tua yang dibangun pada Tahun 1872 oleh Pendeta J. L. Van Hasselt yang berdekatan dengan Asrama Maria Martha.
Para pengunjung sering membawa botol jika berada di situs sumur tua ini. Mereka biasa mengambil air dari sumber mata air sumur tersebut karena air tetap berasa tawar meskipun berada dekat dengan pantai, serta memiliki nilai sejarah dan kepercayaan spiritual yang tinggi.
Sumur Tua di Pulau Mansinam
Sekarang saatnya kita beranjak menuju ke Puncak Pulau Mansinam untuk melihat situs bersejarah lainnya.

Patung Yesus Memberkati di Pulau Mansinam
Pulau Mansinam dan Pulau Lemon terletak di dalam Teluk Dore Manokwari. Pulau Mansinam adalah lokasi pendaratan para misionaris Zending yang datang ke Tanah Papua untuk melakukan Pekabaran Injil bagi masyarakat Papua.
Tiga penginjil Zending berkebangsaan Jerman yakni Carl Willem Ottow, istrinya dan G. J Geissler mendarat pada 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam. Saat itu sebagian besar penduduk membagun rumah- rumah panggung di pantai di atas air. Tanggal ini dirayakan setiap tahun sebagai hari Pekabaran Injil dan juga dikenal sebagai momentum bagi orang- orang Papua dalam memasuki Era Peradaban Modern. Penginjil Ottow meninggal dan dikuburkan di belakang Gereja Elim Kwawi sedangkan Geissler kembali ke Eropa. Pekerjaan mereka dilanjutkan oleh para misionaris Belanda seperti Van Hasselt dan istrinya, Woelders, Jens, dan misionaris Zending lainnya. Mereka membangun rumah, sekolah, perpustakaan, kebun buah, dan kelapa, dan memelihara ternak sapi.
Meskipun hanya mengalami sedikit kemajuan, mereka mengajar agama, menulis, dan membaca kepada anak- anak yang selanjutnya akan menjadi inti dari umat Kristen mula- mula di Tanah Papua. Woelders kemudian mengembangkan karya misi mereka ke daerah Andai.
Wisatawan yang berkunjung ke Pulau Mansinam bisa melihat situs pekabaran Injil, serta pemandangan alam yang indah sekali.
Penduduk Pulau Mansinam dan Pulau Lemon umumnya bekerja sebagai nelayan, pegawai negeri dan swasta serta penyedia jasa transportasi taksi air dan ojek yang dibutuhkan oleh masyarakat dan wisatawan. Para pengunjung bisa berenang dan snorkeling di kedua pulau tersebut. Namun saat ini karena sudah semakin banyaknya pengunjung dan kapal pesiar yang singgah, tak jarang penduduk mulai mengelola tempat wisata dan menjadi local tour guide.
Waktu yang ideal untuk snorkeling adalah saat air pasang. Hal ini dimaksudkan agar wisatawan bisa menghindari menginjak Terumbu Karang.
Di sekitar Mansinam ada pula beberapa kapal tenggelam (Shipwrecks) yang terletak di sekitar pulau tersebut. Wisatawan penyelam dari berbagai negara suka melihat kapal- kapal tersebut sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke Teluk Cendrawasih.
Foto Merayakan HUT Pekabaran Injil di Tanah Papua
Momen terbaik untuk berkunjung ke Pulau Mansinam adalah pada tanggal 5 Februari setiap tahunnya. Pada tanggal tersebut setiap tahunnya diadakan festival menyambut masuknya Injil Ke Tanah Papua yang dibawa oleh Penginjil Ottow dan Geissler pada tanggal5 Februari 1855. Festival HUT Pekabaran Injil di Tanah Papua sangat ramai karena banyak aktivitas dan festival budaya lokal yang dimeriahkan oleh penduduk se-Tanah Papua.
0 Komentar